Kelas Menengah ke Bawah Paling Rentan

Ditulis pada 12 Juni 2017 - 13:17

[KOMPAS, 12 Juni 2017 - Halaman 26]

Masyarakat kelas menengah ke bawah paling rentan terpapar pangan kedaluwarsa. Itu lantaran pelaku kemungkinan besar mendistribusikan pangan kedaluwarsa ke sarana penjualan yang biasa didatangi golongan masyarakat tersebut. "Pelaku kemungkinan kecil menjual ke tempat-tempat yang administrasi dan manajemennya tertib, seperti ritel modern. Mudah ketahuan," ujar Kepala Balai Besar Pengawas Obat dan Makanan (BBPOM) DKI Jakarta Dewi Prawitasari. Dengan momentum Ramadhan dan Lebaran ini, konsumen perlu berhati-hati saat berbelanja makanan di pasar tumpah dan pasar kaget. Masyarakat yang bakal mudik ke kampung halaman dengan kendaraan pribadi, misalnya, kemungkinan bakal tertarik membeli pangan yang dijual di pinggir jalan daripada ke ritel resmi. Di sisi lain, masyarakat di daerah terpencil jadi sasaran empuk penjual pangan kedaluwarsa karena cenderung kurang teredukasi soal keamanan pangan. Apalagi, pelaku pemalsuan tanggal kedaluwarsa pada kemasan pangan yang baru-baru ini diungkap BBPOM DKI mengakui produknya dijual ke luar Jakarta. Hasil pengawasan di Bendungan Hilir, Jakarta Pusat, menunjukkan ada sampel kue apam mengandung pewarna sintetis rhodamin B dan kerupuk mengandung boraks. Bahan-bahan yang berbahaya untuk dikonsumsi itu masih mudah dibeli sehingga sulit menghentikan peredaran pangan tidak aman. Di sisi lain, bahan-bahan itu terkait industri dan perdagangan. Kemenperin dan Kemendag mesti ikut mencari solusi, bukan hanya BPOM dan BPPOM.